RIVIEW ARTIKEL SCOPUS TUGAS PKKMB UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA 2024

  

Judul

 

 Diversity Of Sate (Satay) As Indonesian Ancient Food

 

Jurnal

Theory And Practice Of Meat Processing

 

Vol. & Hal.

Vol. 9, No. 2 Halaman 125-134

 

Tahun

2024

 

Penulis

Latifahtur Rahmah, Novi I. P. Sari, Arif N. M. Ansori

 

Tanggal

29 Agustus 2024

 

Reviewer

Alinza Zahra Naisyla      24010014253

 



Baca Juga : Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Surabaya

 

 

 

 

Abstrak

Sate (satay) dishes have a wealth of ingredients and spices spread throughout Indonesia, which produces a diversity of types and f lavors of satay. In sate dishes, the way pieces of meat are served on skewers was affected by Arabic culture, which influence is most visible in the development of Indonesian food culture. On average, sate is made using grilling, which is an ancient type of cooking technique survived into modern times. For centuries, wood and charcoal have been some of the oldest human-made fuels as im portant ingredients for cooking and heating in ancient times and even today. Apart from being an everyday food, sate is Indonesia’s gastronomic culinary cultural heritage with a wide diversity that needs to be preserved because it functions as a national identity and has excellent potential for developing culinary tourism.

 

 


 

Pendahuluan

Sate merupakan salah satu warisan kuliner Indonesia yang kaya akan keanekaragaman bahan dan bumbu, yang tersebar di seluruh nusantara. Sate diakui sebagai makanan yang memiliki berbagai jenis dan rasa, dipengaruhi oleh tradisi dan budaya lokal. Artikel ini juga menyoroti pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya kuliner Indonesia, yang merupakan bagian dari identitas bangsa.

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi sejarah sate, berbagai jenisnya, serta teknik memasak yang digunakan, seperti pemanggangan dengan arang. Selain itu, pendahuluan mencakup penjelasan tentang metodologi yang digunakan, yang meliputi analisis literatur etnografi makanan dan sejarah kuliner, untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang sate dan perannya dalam konteks sosial dan budaya di Indonesia


 


Metode

Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini meliputi analisis literatur etnografi makanan, sejarah, tradisi kuliner, dan jenis sate. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri jejak sejarah sate dan berbagai jenis sate yang ada di Indonesia. Metodologi yang diterapkan mencakup pengumpulan dan analisis artikel-artikel relevan serta bab buku yang berisi resensi, rangkuman, dan pemikiran penulis mengenai sate dan kuliner Indonesia secara umum 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil

Penelitian

 

 

 

 

 

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sate merupakan salah satu warisan kuliner Indonesia yang kaya akan keanekaragaman bahan dan bumbu, yang bervariasi di setiap daerah. Penelitian ini mengungkapkan bahwa setiap jenis sate memiliki cita rasa yang unik, yang berasal dari campuran rempah-rempah yang berbeda-beda. Selain itu, sate juga memiliki peran penting dalam budaya dan identitas bangsa Indonesia, serta berpotensi untuk pengembangan wisata kuliner.

 

Penelitian ini juga mencatat bahwa metode pemanggangan sate, yang merupakan teknik memasak kuno, masih digunakan hingga saat ini. Penggunaan kayu dan arang sebagai bahan bakar untuk memasak sate telah menjadi tradisi yang bertahan lama. Hasil observasi menunjukkan bahwa para penjual sate di Indonesia memiliki cara unik dalam menyajikan dan mempromosikan produk mereka, yang menarik perhatian pembeli melalui aroma dan asap yang dihasilkan saat sate dipanggang 

 

 

 

 


Kesimpulan

Menegaskan bahwa sate merupakan salah satu warisan kuliner yang sangat berharga bagi Indonesia, dengan keanekaragaman bahan dan bumbu yang mencerminkan kekayaan budaya dan tradisi masyarakat di berbagai daerah. Penelitian ini menunjukkan bahwa sate tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga memiliki nilai sosial dan budaya yang mendalam, serta berkontribusi pada identitas nasional.

 

Selain itu, metode pemanggangan yang digunakan dalam pembuatan sate, yang telah diwariskan secara turun-temurun, menunjukkan pentingnya teknik tradisional dalam menjaga kualitas dan cita rasa makanan. Penelitian ini juga menyoroti potensi sate sebagai daya tarik wisata kuliner, yang dapat meningkatkan kesadaran dan minat terhadap kuliner Indonesia di tingkat domestik maupun internasional.

 

Dengan demikian, pelestarian dan promosi sate sebagai bagian dari warisan kuliner Indonesia sangat penting untuk dilakukan, agar generasi mendatang dapat terus menikmati dan menghargai kekayaan kuliner yang ada

 

 

 




Kelebihan

1. Keanekaragaman Kuliner: Penelitian ini menyoroti keanekaragaman sate di Indonesia, yang mencerminkan kekayaan budaya dan tradisi lokal. Hal ini memberikan wawasan tentang bagaimana berbagai daerah memiliki variasi dalam bahan dan bumbu yang digunakan, sehingga memperkaya pengalaman kuliner.

2. Pelestarian Budaya: Penelitian ini menekankan pentingnya pelestarian sate sebagai warisan budaya. Dengan mendokumentasikan sejarah dan tradisi yang terkait dengan sate, penelitian ini berkontribusi pada upaya menjaga identitas kuliner Indonesia.

  1. Potensi Wisata Kuliner: Penelitian ini mengidentifikasi sate sebagai daya tarik wisata kuliner, yang dapat meningkatkan minat wisatawan domestik dan internasional. Ini menunjukkan bagaimana kuliner dapat berkontribusi pada pengembangan pariwisata dan ekonomi lokal.
  2. Teknik Memasak Tradisional: Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya teknik pemanggangan tradisional dalam pembuatan sate, yang tidak hanya menjaga cita rasa tetapi juga melestarikan metode memasak yang telah ada sejak lama.

    Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi yang                signifikan terhadap pemahaman tentang sate dan perannya dalam               budaya serta pariwisata Indonesia 

 

 




Kekurangan

  1. Fokus Terbatas pada Jenis Sate: Meskipun penelitian ini mencakup berbagai jenis sate, mungkin ada beberapa jenis atau variasi lokal yang tidak dibahas secara mendalam. Hal ini dapat mengurangi representativitas keseluruhan dari keanekaragaman sate di Indonesia.
  2. Aspek Modernisasi: Penelitian ini mungkin kurang menyoroti dampak modernisasi dan perubahan gaya hidup terhadap tradisi pembuatan dan penyajian sate. Perubahan dalam preferensi konsumen dan teknologi dapat mempengaruhi cara sate diproduksi dan dikonsumsi.
  3. Keterbatasan Geografis: Jika penelitian ini hanya berfokus pada daerah tertentu di Indonesia, maka hasilnya mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan keadaan di seluruh nusantara, yang memiliki keragaman budaya dan kuliner yang sangat luas.

 

 

Komentar